Taubat
Para
alim-ulama berkata:
"Mengerjakan taubat
itu hukumnya wajib
dari segala macam
dosa. Jikalau kemaksiatan itu terjadi antara
seseorang hamba dan antara Allah Ta'ala saja, yakni tidak ada hubungannya dengan hak seseorang manusia yang lain,
maka
untuk
bertaubat
itu
harus
menetapi tiga macam syarat, yaitu:
Pertama hendaklah
menghentikan sama sekali-seketika itu juga -dari kemaksiatan yang dilakukan, kedua ialah supaya merasa menyesal kerana telah melakukan kemaksiatan tadi dan ketiga supaya berniat tidak akan kembali mengulangi perbuatan maksiat itu untuk
selama-lamanya. Jikalau salah satu dari tiga syarat tersebut di atas itu ada yang ketinggalan maka tidak sahlah
taubatnya.
Apabila
kemaksiatan itu ada hubungannya
dengan sesama manusia, maka syarat-
syaratnya itu ada empat macam, yaitu tiga syarat yang tersebut di atas dan keempatnya ialah supaya
melepas-kan tanggungan itu dari
hak kawannya. Maka jikalau
tanggungan
itu
berupa harta atau yang semisal dengan
itu, maka wajiblah mengembalikannya
kepada yang berhak tadi, jikalau berupa dakwaan zina atau yang semisal
dengan itu, maka hendaklah mencabut dakwaan tadi dari orang yang didakwakan
atau meminta saja pengampunan daripada kawannya dan jikalau merupakan pengumpatan,
maka hendaklah meminta penghalalan
yakni pemaafan dari umpatannya itu kepada orang yang diumpat olehnya.
Seseorang
itu wajiblah bertaubat dari segala macam dosa, tetapi jikalau seseorang
itu bertaubat dari sebagian
dosanya, maka taubatnya
itupun sah dari dosa yang dimaksudkan
itu, demikian
pendapat
para
alim-ulama
yang
termasuk golongan ahlulhaq, namun
saja
dosa-dosa yang lain-lainnya masih tetap ada
dan tertinggal - yakni belum lagi ditaubati.
Sudah
jelaslah dalil-dalil yang tercantum dalam Kitabullah, Sunnah Rasulullah s.a.w.
serta ijma' seluruh ummat perihal wajibnya mengerjakan taubat itu.
Allah
Ta'ala berfirman:
"Dan bertaubatlah engkau
semua kepada Allah, hai sekalian orang Mu'min, supaya engkau semua memperoleh
kebahagiaan." (an-Nur: 31)
Allah
Ta'ala berfirman lagi:
"Mohon ampunlah kepada Tuhanmu semua dan
bertaubatlah kepadaNya."
(Hud: 3) Dan lagi firmanNya:
"Hai sekalian orang
yang beriman, bertaubatlah kepada
Allah dengan taubat
yang nashuha -
yakni yang sebenar-benarnya." (at-Tahrim:
8)
Keterangan:
Taubat nashuha
itu wajib dilakukan dengan
memenuhi tiga macam
syarat sebagaimana di bawah ini, yaitu:
(a) Semua
hal-hal yang mengakibatkan diterapi siksa,
kerana berupa perbuatan
yang dosa jika dikerjakan, wajib
ditinggalkan secara sekaligus dan
tidak diulangi lagi.
(b)
Bertekad bulat dan teguh untuk memurnikan serta
membersihkan diri sendiri
dari semua perkara dosa tadi tanpa bimbang dan ragu-ragu.
(c)
Segala perbuatannya jangan dicampuri apa-apa yang
mungkin dapat mengotori atau
sebab-sebab yang menjurus ke arah dapat merusakkan taubatnya itu.
13.
Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Demi Allah, sesungguhnya saya itu niscayalah memohonkan pengampunan kepada
Allah serta bertaubat kepadaNya
dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." (Riwayat
Bukhari)
14.
Dari Aghar bin Yasar al-Muzani r.a.
katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Hai sekalian manusia, bertaubatlah
kepada Allah dan mohonlah pengampunan
daripadaNya, kerana sesungguhnya saya ini bertaubat dalam sehari seratus kali." (Riwayat Muslim)
15. Dari Abu Hamzah yaitu Anas bin Malik al-Anshari r.a., pelayan Rasulullah
s.a.w., katanya: Rasulullah s.a.w.
bersabda:
"Niscayalah Allah itu lebih gembira dengan taubat hambaNya daripada gembiranya seseorang dari engkau semua yang jatuh di atas untanya
dan oleh Allah
ia disesatkan di suatu tanah yang luas." (Muttafaq
'alaih)
Dalam
riwayat Muslim disebutkan demikian:
"Niscayalah Allah itu lebih gembira dengan taubat hambaNya ketika ia bertaubat kepadaNya daripada gembiranya
seseorang dari engkau semua yang berada di atas kendaraannya - yang dimaksud
ialah untanya - dan berada di suatu tanah yang luas, kemudian menyingkirkan kendaraannya itu dari dirinya,
sedangkan di situ ada makanan
dan minumannya. Orang
tadi lalu berputus-asa. Kemudian
ia mendatangi sebuah pohon
terus tidur berbaring di bawah naungannya, sedang
hatinya sudah berputus asa sama sekali dari kendaraannya
tersebut. Tiba-tiba di kala ia berkeadaan sebagaimana di atas itu, kendaraannya itu tampak
berdiri di sisinya,
lalu ia mengambil
ikatnya. Oleh sebab sangat
gembiranya maka ia berkata: "Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah TuhanMu". Ia menjadi
salah ucapannya kerana amat gembiranya."
Keterangan:
Jadi kegembiraan Allah Ta'ala di kala
mengetahui ada hambaNya yang bertaubat itu adalah lebih sangat dari kegembiraan
orang yang tersebut dalam ceritera di
atas itu.
16. Dari Abu Musa Abdullah bin Qais al-Asy'ari r.a., dari Nabi
s.a.w., sabdanya: "Sesungguhnya Allah Ta'ala itu membeberkan tanganNya - yakni kerahmatanNya -di
waktu malam untuk menerima taubatnya
orang yang berbuat kesalahan
di waktu siang dan
juga membeberkan tanganNya di waktu
siang
untuk
menerima
taubatnya orang yang
berbuat kesalahan di waktu malam. Demikian ini terus menerus sampai terbitnya matahari dari
arah barat - yakni di saat hamper tibanya hari kiamat, kerana setelah ini terjadi, tidak diterima lagi
taubatnya seseorang." (Riwayat Muslim)
17.
Dari Abu Hurairah
r.a., katanya: Rasulullah
s.a.w. bersabda: "Barangsiapa bertaubat sebelum
matahari terbit dari arah barat,
maka Allah menerima
taubatnya orang itu."
(Riwayat Muslim)
Keterangan:
Uraian dalam Hadis di atas sesuai dengan firman Allah dalam al-Quran
al-Karim, surat Nisa', ayat 18 yang berbunyi:
"Taubat
itu tidaklah diterima bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan, sehingga di kala salah seorang dari mereka itu telah didatangi kematian - sudah dekat ajalnya dan ruhnya sudah di kerongkongan - tiba-tiba ia mengatakan:
"Aku sekarang bertaubat."
18. Dari Abu Abdur Rahman yaitu Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiallahu
'anhuma
dari Nabi s.a.w., sabdanya:
"Sesungguhnya Allah 'Azzawajalla itu
menerima taubatnya seseorang hamba selama ruhnya belum sampai di
kerongkongannya - yakni ketika akan meninggal dunia."
Diriwayatkan
oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
19. Dari Zir bin Hubaisy, katanya: "Saya
mendatangi Shafwan bin 'Assal
r.a. perlu menanyakan soal mengusap
dua buah sepatu khuf (but). Shafwan berkata: "Apakah
yang menyebabkan engkau datang ini,
hai Zir?" Saya menjawab: "Kerana ingin mencari ilmu pengetahuan." Ia berkata lagi:
"Sesungguhnya para malaikat itu sama meletakkan sayap- sayapnya - yakni
berhenti terbang dan ingin pula mendengarkan
ilmu atau kerana tunduk menghormat -
kepada Orang yang menuntut ilmu,
kerana ridha dengan apa yang
dicarinya."
Saya berkata:
"Sebenarnya saya sudah tergerak
dalam hatiku akan mengusap di atas dua
buah sepatu khuf itu sehabis
buang air besar atau kecil. Engkau adalah termasuk
salah seorang sahabat Nabi s.a.w., maka dari itu saya datang ini untuk
menanyakannya kepadamu. Apakah engkau pernah mendengar beliau s.a.w. menyebutkan persoalan mengusap sepatu khuf
itu daripadanya?" Shafwan menjawab: "Ia pernah. Rasulullah s.a.w. menyuruh kita semua, jikalau kita sedang dalam bepergian,supaya kita jangan
melepaskan sepatu khuf kita selama tiga hari dengan
malamnya sekali, kecuali jikalau kita
terkena janabah, tetapi kalau
hanya kerana membuang air besar atau
kecil atau kerana sehabis tidur, bolehlah
tidak usah dilepaskan."
Saya berkata lagi: "Apakah engkau
pernah mendengar beliau s.a.w. menyebutkan
persoalan cinta?" Dia menjawab: "Ya pernah. Pada suatu ketika kita
bersama dengan Rasulullah s.a.w. dalam bepergian.
Di kala kita berada di sisinya itu, tiba-tiba ada seorang a'rab (orang
Arab dari pegunungan) memanggil beliau itu dengan suara yang keras sekali, katanya: "Hai Muhammad." Rasulullah s.a.w. menjawabnya dengan suara yang sekeras suaranya itu pula: "Mari
kemari". Saya berkata pada orang a'rab tadi: "Celaka engkau ini, perlahankanlah suaramu,
sebab engkau ini benar-benar ada di sisi Nabi s.a.w.,sedangkan aku dilarang semacam
ini - yakni bersuara keras-keras di
hadapannya-."Orang a'rab itu berkata: "Demi Allah, saya tidak akan memperlahankan suaraku." Kemudian ia berkata kepada Nabi s.a.w.: "Ada
orang mencintai sesuatu golongan,
tetapi ia tidak dapat menyamai mereka - dalam
hal amal perbuatannya serta
cara mencari kesempurnaan kehidupan
dunia dan akhiratnya. Nabi s.a.w. menjawab: "Seseorang itu dapat menyertai
orang yang dicintai olehnya besok pada hari kiamat." Tidak henti-hentinya
beliau memberitahukan apa saja kepada kita, sehingga akhirnya
menyebutkan bahwa di arah barat itu ada sebuah pintu
yang perjalanan luasnya yakni
sekiranya seseorang yang
berkendaraan berjalan hendak menempuh jarak luasnya itu, maka jarak antara dua ujung pintu tadi adalah sejauh empat puluh atau tujuh puluh tahun."
Salah seorang yang meriwayatkan Hadis ini yaitu Sufyan mengatakan: "Di arah Syam
pintu itu dijadikan oleh Allah Ta'ala sejak hari Dia menciptakan semua langit dan bumi,
senantiasa terbuka
untuk taubat, tidak pernah ditutup sehingga terbitlah matahari
dari sebelah barat yakni dari dalam pintu tadi."
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan lain-lainnya
dan Imam Termidzi mengatakan bahwa Hadis ini adalah hasan shahih.
20. Dari Abu Said, yaitu Sa'ad bin Sinan
al-Khudri r.a. bahwasanya Nabiullah s.a.w. bersabda:
"Ada seorang lelaki dari golongan
ummat yang sebelummu telah membunuh sembilanpuluh sembilan manusia, kemudian ia menanyakan tentang orang yang teralim
dari penduduk bumi, ialu ia ditunjukkan pada seorang pendeta. lapun
mendatanginya dan selanjutnya berkata bahwa sesungguhnya ia telah
membunuh sembilanpuluh sembilan manusia, apakah masih diterima
untuk bertaubat. Pendeta itu menjawab: "Tidak dapat." Kemudian
pendeta itu dibunuhnya sekali dan dengan demikian ia telah menyempurnakan
jumlah seratus dengan ditambah seorang lagi
itu. Lalu ia bertanya lagi tentang orang yang teralim dari penduduk bumi, kemudian
ditunjukkan pada seorang yang alim, selanjutnya ia
mengatakan bahwa
sesungguhnya ia telah membunuh seratus
manusia, apakah masi'h
diterima taubatnya. Orang alim itu
menjawab: "Ya, masih dapat.
Siapa yang dapat menghalang-halangi
antara dirinya
dengan taubat itu. Pergilah
engkau ke tanah begini-begini, sebab di situ ada
beberapa kelompok manusia yang sama
menyembah Allah Ta'ala, maka
menyembahlah engkau kepada Allah itu
bersama-sama dengan mereka dan
janganlah engkau kembali ke tanahmu sendiri, sebab tanahmu adalah negeri yang buruk." Orang itu terus pergi
sehingga di waktu ia telah sampai separuh perjalanan, tiba-tiba ia didatangi oleh kematian.
Kemudian bertengkarlah untuk mempersoalkan diri orang tadi malaikat
kerahmatan dan malaikat siksaan - yakni yang bertugas memberikan kerahmatan dan bertugas
memberikan siksa, malaikat kerahmatan berkata: "Orang ini telah datang
untuk bertaubat sambil menghadapkan hatinya kepada Allah Ta'ala." Malaikat
siksaan berkata: "Bahwasanya
orang ini samasekali belum pernah
melakukan kebaikan sedikitpun."
Selanjutnya ada seorang malaikat yang
mendatangi mereka dalam bentuk
seorang manusia, lalu ia dijadikan
sebagai pemisah antara malaikat-malaikat yang berselisih tadi, yakni dijadikan hakim pemutusnya
- untuk menetapkan mana yang benar. Ia berkata: "Ukurlah olehmu
semua antara dua tempat di bumi itu, ke mana ia lebih dekat
letaknya, maka orang ini
adalah untuknya - maksudnya jikalau lebih dekat ke arah bumi yang dituju untuk melaksanakan taubatnya,
maka ia adalah milik malaikat
kerahmatan dan jikalau lebih dekat
dengan bumi asalnya maka ia adalah
milik malaikat siksaan." Malaikat-malaikat itu mengukur, kemudian
didapatinya bahwa orang tersebut adalah lebih dekat kepada bumi yang dikehendaki -yakni yang dituju untuk melaksanakan taubatnya. Oleh sebab
itu maka ia dijemputlah oleh malaikat kerahmatan." (Muttafaq 'alaih)
Dalam sebuah riwayat yang shahih disebutkan
demikian: "Orang tersebut lebih dekat sejauh sejengkal saja pada pedesaan
yang baik itu - yakni yang hendak didatangi, maka dijadikanlah ia
termasuk golongan penduduknya."
Dalam riwayat
lain yang shahih pula disebutkan:
Allah Ta'ala lalu mewahyukan kepada tanah yang ini - tempat asalnya - supaya engkau menjauh dan kepada tanah yang ini
- tempat yang hendak dituju
- supaya engkau mendekat - maksudnya supaya tanah asalnya itu memanjang sehingga kalau diukur akan menjadi jauh, sedang tanah
yang dituju itu menyusut sehingga
kalau diukur menjadi dekat jaraknya. Kemudian firmanNya: "Ukurlah antara keduanya."
Malaikat-malaikat
itu
mendapatkannya
bahwa
kepada
yang
ini
-yang
dituju - adalah lebih dekat
sejauh sejengkal saja jaraknva. Maka orang itupun diampunilah dosa-dosanya."
Dalam riwayat lain lagi disebutkan:
"Orang tersebut bergerak - amat
susah payah kerana hendak mati -
dengan dadanya ke arah tempat yang dituju itu."
Keterangan:
Uraian Hadis ini menjelaskan perihal lebih utamanya berilmu pengetahuan dalam
selok-belok agama, apabila dibandingkan dengan
terus beribadat tanpa mengetahui
bagaimana yang semestinya dilakukan. Juga menjelaskan perihal keutamaan 'uzlah
atau mengasingkan diri di saat keadaan zaman
sudah boleh dikatakan rusak binasa dan kemaksiatan serta
kemungkaran merajalela di mana-mana.
21. Dari Abdullah
bin Ka'ab bin Malik dan ia - yakni Abdullah -adalah
pembimbing Ka'ab r.a. dari golongan anak-anaknya ketika Ka'ab - yakni
ayahnya itu - sudah buta matanya, katanya: "Saya mendengar Ka'ab bin Malik r.a.
menceriterakan perihal peristiwanya
sendiri ketika membelakang - artinya tidak mengikuti - Rasulullah s.a.w. dalam peperangan
Tabuk."
Ka'ab berkata:
"Saya tidak pernah membelakang - tidak mengikuti - Rasulullah s.a.w. dalam suatu peperanganpun kecuali dalam peperangan
Tabuk. Hanya saja saya juga pernah tidak mengikuti dalam peperangan Badar,
tetapi beliau s.a.w. tidak
mengolok-olokkan seseorangpun yang tidak mengikutinya itu - yakni Badar.
Hanyasanya Rasulullah s.a.w. keluar bersama kaum Muslimin
menghendaki kafilahnya kaum
Quraisy, sehingga Allah Ta'ala mengumpulkan antara mereka itu dengan musuhnya dalam waktu yang tidak tertentukan. Saya juga ikut
menyaksikan bersama Rasulullah s.a.w. di malam 'aqabah di waktu kita berjanji saling memperkokohkan
Islam dan saya tidak senang andaikata
tidak mengikuti malam 'aqabah itu sekalipun umpamanya saya ikut
menyaksikan peperangan Badar dan sekalipun pula bahwa
peperangan Badar itu lebih termasyhur sebutannya
di kalangan para manusia daripada
malam 'aqabah tadi. Perihal keadaanku ketika saya tidak mengikuti Rasulullah s.a.w. dalam peperangan Tabuk ialah bahwa saya sama-sekali tidak lebih
kuat dan tidak pula lebih ringan dalam perasaanku sewaktu saya tidak
mengikuti peperangan tersebut. Demi Allah saya belum pernah mengumpulkan dua buah kendaraan sebelum adanya peperangan Tabuk itu, sedang untuk peperangan ini saya dapat
mengumpulkan keduanya. Tidak pula
Rasulullah s.a.w. itu menghendaki suatu
peperangan, melainkan tentu beliau berniat pula dengan peperangan yang berikutnya sehingga sampai terjadinya peperangan Tabuk.
Rasulullah s.a.w. berangkat
dalam peperangan Tabuk
itu dalam keadaan panas yang
sangat dan menghadapi suatu perjalanan yang jauh lagi harus menempuh daerah yang sukar memperoleh
air dan tentulah pula akan menghadapi musuh yang
jumlahnya amat besar sekali.
Beliau s.a.w. kemudian
menguraikan maksudnya itu kepada seluruh kaum Muslimin dan menjelaskan persoalan mereka, supaya mereka dapat bersiap untuk
menyediakan perbekalan peperangan
mereka. Beliau s.a.w. memberitahukan pada mereka dengan tujuan yang dikehendaki. Kaum Muslimin yang menyertai Rasulullah s.a.w. itu banyak sekali,
tetapi mereka itu tidak terdaftarkan dalam sebuah buku
yang terpelihara." Yang dimaksud
oleh Ka'ab ialah adanya buku
catatan yang berisi daftar mereka itu.
Ka'ab
berkata: "Maka
sedikit sekali orang yang ingin untuk
tidak menyertai peperangan tadi, melainkan
ia juga menyangka bahwa
dirinya akan tersamarkan,selama tidak ada wahyu yang turun dari Allah Ta'ala -
maksudnya kerana banyaknya orang
yang mengikuti, maka orang
yang berniat tidak mengikuti tentu
tidak akan diketahui
oleh siapapun sebab catatannyapun tidak ada.
Rasulullah s.a.w. berangkat dalam peperangan
Tabuk itu di kala buah-buahan sedang enak-enaknya dan naungan-naungan di bawahnya sedang
nyaman-nyamannya. Saya amat senang
sekali pada buah-buahan
serta naungan
itu. Rasulullah
s.a.w. bersiap-siap dan sekalian
kaum Muslimin juga
demikian. Saya mulai
pergi untuk ikut bersiap-siap
pula dengan beliau, tetapi saya
lalu mundur lagi dan tidak ada
sesuatu urusanpun yang saya selesaikan,
hanya dalam hati
saya berkata bahwa
saya dapat sewaktu-waktu
berangkat jikalau saya
menginginkan. Hal yang sedemikian itu selalu saja mengulur-ulurkan waktu persiapanku, sehingga orang-orang
giat sekali untuk mengadakan perbekalan mereka, sedangkan saya sendiri belum ada persiapan sedikitpun. Kemudian saya pergi lagi lalu kembali pula dan tidak pula ada sesuatu urusan yang dapat saya selesaikan. Keadaan sedemikian ini terus-menerus
menyebabkan saya mengulur-ulurkan waktu keberangkatanku,
sehingga orang-orang banyak telah bergegas-gegas
dan majulah mereka yang hendak mengikuti peperangan itu. Saya bermaksud
akan
berangkat kemudian dan selanjutnya tentu dapat menyusul mereka yang berangkat Tebih dulu. Alangkah
baiknya sekiranya maksud itu saya laksanakan, tetapi kiranya yang sedemikian tadi
tidak ditakdirkan untuk dapat saya
kerjakan. Dengan begitu maka setiap saya keluar
bertemu
dengan orang-orang banyak setelah berangkatnya Rasulullah s.a.w. itu, keadaan sekelilingku itu selalu menyedihkan hatiku,
kerana saya mengetahui bahwa
diriku itu hanyalah
sebagai suatu tuntunan
yang dapat dituduh
melakukan kemunafikan
atau hanya
sebagai seseorang yang
dianggap beruzur oleh Allah
Ta'ala kerana termasuk golongan kaum
yang lemah - tidak kuasa mengikuti
peperangan.
Rasulullah s.a.w. kiranya tidak mengingat
akan diriku sehingga beliau datang di Tabuk, maka sewaktu beliau duduk di kalangan kaumnya di Tabuk, tiba-tiba
bertanya: "Apa yang dilakukan oleh Ka'ab bin Malik?" Seorang
dari golongan Bani Salimah menjawab: "Ya Rasulullah, ia ditahan oleh
pakaian indahnya dan oleh keadaan sekelilingnya yang permai pandangannya." Kemudian Mu'az bin Jabal r.a. berkata: "Buruk sekali yang kau katakan
itu. Demi Allah ya Rasulullah, kita tidak pernah melihat keadaan Ka'ab itu kecuali yang baik-baik
saja." Rasulullah s.a.w.
berdiam diri. Ketika beliau s.a.w.
dalam keadaan
seperti itu lalu melihat ada seorang yang mengenakan
pakaian serba putih yang
digerak-gerakkan oleh fatamorgana - sesuatu
yang tampak semacam air dalam keadaan yang panas terik
di padang
pasir - Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Engkaukah Abu Khaitsamah?"Memang orang ituadalah Abu Khaitsamah
al-Anshari dan ia adalah yang pernah bersedekah dengan sesha' kurma ketika
dicaci oleh kaum munafikin.
Ka'ab berkata
selanjutnya: "Setelah ada berita
yang sampai di telingaku bahwa
Rasulullah s.a.w. telah menuju kembali
dengan kafilahnya dari Tabuk, maka datanglah
kesedihanku lalu saya mulai mengingat-ingat
bagaimana sekiranya saya berdusta - untuk mengada-adakan alasan tidak mengikuti peperangan. Saya berkata pada diriku, bagaimana
caranya supaya dapat terkeluar - terhindar dari
kemurkaannya besok sekiranya beliau
telah tiba. Sayapun meminta bantuan untuk menemukan jalan keluar dari kesulitan ini dengan setiap orang yang banyak
mempunyai pendapat dari golongan
keluargaku. Setelah diberitahukan bahwa Rasulullah
s.a.w. telah tiba maka lenyaplah kebathilan dari jiwaku -
yakni keinginan akan berdusta itu - sehingga saya
mengetahui bahwa saya tidak dapat
menyelamatkan diriku dari kemurkaannya itu dengan
sesuatu apapun untuk selama- lamanya.
Oleh sebab itu saya menyatukan
pendapat hendak mengatakan secara sebenarnya belaka.
Rasulullah s.a.w. itu apabila datang dari
perjalanan, tentu memulai dengan memasuki masjid, kemudian bersembahyang dua
rakaat, kemudian duduk di hadapan
orang banyak. Setelah beliau
melakukan yang sedemikian itu, maka
datanglah padanya orang-orang yang membelakang
- tidak mengikuti peperangan - untuk mengemukakan alasan mereka dan
mereka pun bersumpah dalam mengemukakan alasan-alasannya
itu. Jumlah yang tidak mengikuti itu ada delapan puluh lebih - tiga sampai
sembilan. Beliau s.a.w. menerima alasan- alasan yang mereka kemukakan secara terus terang itu, juga
membai'at - meminta janji setia - mereka serta memohonkan pengampunan untuk mereka pula, sedang apa yang tersimpan dalam
hati mereka bulat-bulat diserahkan kepada Allah Ta'ala. Demikianlah sehingga sayapun datanglah
menghadap beliau s.a.w. itu. Setelah
saya mengucapkan salam padanya, beliau tersenyum bagaikan senyumnya
orang yang murka, kemudian bersabda:
"Kemarilah!" Saya mendatanginya sambil berjalan sehingga saya duduk di hadapannya, kemudian beliau
s.a.w. bertanya padaku: "Apakah yang menyebabkan engkau tertinggal bukankah engkau
telah membeli unta untuk kendaraanmu?"
Ka'ab berkata: "Saya lalu menjawab:
Ya Rasulullah, sesungguhnya saya,
demi Allah, andaikata saya duduk di sisi selain Tuan dari golongan ahli dunia, niscayalah
saya berpendapat bahwa
saya akan dapat
keluar dari
kemurkaannya dengan mengemukakan suatu alasan. Sebenarnya saya telah dikaruniai kepandaian dalam bercakap-cakap. Tetapi saya ini, demi Allah, pasti dapat mengerti bahwa andai kata saya memberitahukan
kepada Tuan dengan suatu ceritera
bohong pada hari ini yang Tuan akan merasa rela dengan ucapanku itu, namun
sesungguhnya Allah hampir-hampir akan
memurkai Tuan kerana perbuatanku itu. Sebaliknya
jikalau saya memberitahukan kepada Tuan dengan ceritera yang sebenarnya yang dengan demikian itu Tuan akan
murka atas diriku dalam hal ini,
sesungguhnya saya hanyalah menginginkan keakhiran yang baik dari Allah 'Azzawajalla.
Demi Allah, saya tidak beruzur sedikitpun - sehingga tidak mengikuti peperangan itu.
Demi Allah, sama sekali saya belum merasakan bahwa saya lebih kuat dan
lebih ringan untuk mengikutinya itu,
yakni di waktu saya membelakang daripada Tuan -sehingga
jadi tidak ikut
berangkat."
Ka'ab berkata: "Rasulullah s.a.w.
lalu bersabda: Tentang orang ini, maka
pembicaraannya memang benar - tidak berdusta. Oleh sebab itu bolehlah engkau berdiri
sehingga Allah akan memberikan keputusannya tentang dirimu."
Ada beberapa orang dari golongan Bani Salimah yang berjalan mengikuti jejakku,
mereka berkata: "Demi Allah, kita tidak menganggap bahwa engkau telah pernah bersalah dengan melakukan sesuatu dosapun sebelum saat ini. Engkau agaknya
tidak kuasa, mengapa engkau tidak mengemukakan keuzuranmu saja kepada
Rasulullah s.a.w. sebagaimana keuzuran yang dikemukakan oleh orang-orang yang
tertinggal yang lain-lain. Sebenarnya
bukankah telah mencukupi untuk menghilangkan
dosamu itu jikalau Rasulullah s.a.w. suka memohonkan mengampunan
kepada Allah untukmu.
Ka'ab berkata: "Demi Allah, tidak henti-hentinya orang-orang itu
mengolok-olokkan diriku - kerana menggunakan cara yang dilakukan sebagaimana di atas yang telah terjadi itu
- sehingga saya sekali
hendak kembali saja kepada Rasulullah s.a.w. – untuk mengikuti cara
orang-orang Bani Salimah itu, agar saya
mendustakan diriku sendiri. Kemudian
saya berkata kepada orang-orang itu:
"Apakah ada orang lain yang menemui peristiwa sebagaimana hal yang saya
temui itu?" Orang-orang
itu menjawab: "Ya,
ada dua orang yang
menemui keadaan seperti itu. Keduanya berkata sebagaimana yang engkau
katakan lalu terhadap keduanya itupun diucapkan - oleh Rasulullah s.a.w. - sebagaimana kata-kata yang diucapkan
padamu."
Ka'ab berkata: "Siapakah kedua orang itu?"
Orang-orang menjawab: "Mereka itu ialah
Murarah bin Rabi'ah al-'Amiri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi."
Ka'ab berkata:
"Orang-orang itu menyebut-nyebutkan di mukaku bahwa kedua orang itu adalah orang-orang shahih dan juga benar-benar ikut menyaksikan peperangan Badar dan keduanya dapat dijadikan sebagai contoh - dalam keberanian dan lain-lain."
Ka'ab berkata: "Saya pun lalu terus pergi
di kala mereka telah selesai
menyebut- nyebutkan tentang kedua orang tersebut di atas di mukaku.
Rasulullah s.a.w. melarang kita - kaum Muslimin - untuk bercakap-cakap dengan
ketiga orang di antara orang-orang yang sama
membelakang - tidak mengikuti perjalanan - beliau itu."
Ka'ab berkata: "Orang-orang sama
menjauhi kita," dalam riwayat lain ia berkata: "Orang-orang sama berubah sikap terhadap kita bertiga,
sehingga dalam jiwaku seolah-olah bumi ini tidak mengenal
lagi akan diriku,
maka seolah-olah bumi ini adalah bukan
bumi yang saya kenal sebelumnya. Kita bertiga berhal demikian itu selama
lima puluh malam - dengan harinya. Adapun
dua kawan saya,
maka keduanya itu menetap
saja dan selalu duduk-duduk di rumahnya sambil
menangis. Tentang saya sendiri, maka
saya adalah yang termuda di kalangan
kita bertiga dan lebih tahan - mendapat-kan
ujian. Oleh sebab itu sayapun keluar serta menyaksikan shalat jamaah bersama
kaum Muslimin lain-lain dan juga suka
berkeliling di pasar-pasar, tetapi tidak seorangpun yang mengajak bicara padaku. Saya pernah mendatangi
Rasulullah s.a.w. dan mengucapkan
salam padanya dan beliau ada di majlisnya sehabis shalat, kemudian saya berkata dalam hatiku, apakah beliau menggerakkan kedua bibirnya untuk menjawab
salamku itu ataukah tidak. Selanjutnya
saya bersembahyang dekat sekali pada
tempatnya itu dan saya mengamat-amatinya
dengan pandanganku. Jikalau saya
mulai mengerjakan shalat, beliau
melihat padaku, tetapi jikalau saya menoleh padanya, beliaupun lalu memalingkan
mukanya dari pandanganku.
Demikian
halnya, sehingga setelah terasa amat lama sekali penyeteruan kaum Muslimin itu terhadap diriku, lalu saya berjalan sehingga
saya menaiki dinding muka dari rumah Abu Qatadah.
Ia adalah anak pamanku - jadi sepupunya - dan ia adalah orang yang
tercinta bagiku di antara semua orang. Saya memberikan salam padanya, tetapi demi Allah,
ia tidak menjawab salamku itu.
Kemudian saya berkata kepadanya: "Hai Abu Qatadah, saya hendak bertanya padamu
kerana Allah, apakah
engkau
mengetahui
bahwa
saya
ini
mencintai Allah dan RasulNya s.a.w.?" Ia diam saja, lalu saya ulangi lagi dan bertanya sekali iagi padanya, iapun
masih diam saja. Akhirnya saya
ulangi lagi dan saya menanyakannya sekali lagi, lalu ia berkata:
"Allah dan RasulNya
yang lebih mengetahui tentang itu." Oleh
sebab jawabnya ini, maka mengalirlah air
mataku dan saya meninggalkannya sehingga saya menaiki dinding rumah tadi.
Di kala saya berjalan di pasar kota, tiba-tiba ada seorang petani dari golongan
petani negeri Syam (Palestina), yaitu dari golongan orang-orang yang
datang dengan membawa makanan yang hendak
dijualnya di Madinah, lalu orang itu berkata: "Siapakah yang suka
menunjukkan, manakah yang bernama
Ka'ab bin Malik." Orang-orang lain
sama menunjukkannya kearahku,
sehingga orang itupun mendatangi tempatku, kemudian menyerahkan sepucuk surat dari raja Ghassan
- yang beragama Kristen. Saya memang orang yang dapat menulis, maka surat itupun saya baca, tiba-tiba isinya adalah
sebagai berikut:
"Amma ba'd. Sebenarnya
telah sampai berita pada kami bahwa sahabatmu - yakni Muhammad s.a.w. - telah
menyeterumu. Allah tidaklah menjadikan engkau untuk menjadi orang hina di dunia
ataupun orang yang dihilangkan hak-haknya. Maka dari itu susullah kami
- maksudnya datanglah di tempat kami
- maka kami akan menggembirakan hatimu."
Kemudian saya
berkata setelah selesai membacanya itu: "Ah, inipun juga termasuk
bencana pula," lalu saya menuju ke dapur dengan membawa surat tadi kemudian
saya membakarnya. Selanjutnya setelah lepas waktu selama empatpuluh hari dari jumlah limapuluh hari, sedang waktu agak
terlambat datangnya tiba-tiba
datanglah di tempatku seorang utusan dari Rasulullah s.a.w., terus berkata: "Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. memerintahkan padamu supaya
engkau menyendirikan isterimu." Saya bertanya: "Apakah
saya harus menceraikannya ataukah apa yang harus saya lakukan?" Ia berkata:
"Tidak usah menceraikan, tetapi menyendirilah daripadanya, jadi jangan
sekali-kali engkau mendekatinya." Rasulullah s.a.w. juga mengirimkan utusan kepada kedua sahabat saya -
yang senasib di atas - sebagaimana yang dikirimkannya
padaku. Oleh sebab itu lalu saya berkata pada isteriku: "Susullah dulu keluargamu - maksudnya pergilah ke tempat kedua
orang tuamu. Beradalah di sisi
mereka sehingga Allah akan menentukan
bagaimana kelanjutan peristiwa ini."
Isteri Hilal bin Umayyah mendatangi
Rasulullah s.a.w., lalu berkata pada beliau:
"Ya Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayyah itu seorang yang amat tua dan hanya sebatang kara, tidak mempunyai pelayan juga. Apakah Tuan
juga tidak senang andaikata saya tetap
melayaninya?" Beliau s.a.w. menjawab: "Tidak, tetapi jangan
sekali-kali ia mendekatimu - jangan berkumpul seketiduran denganmu." Isterinya berkata lagi: "Sesungguhnya
Hilal itu demi Allah, sudah tidak mempunyai gerak samasekali
pada sesuatupun dan demi Allah, ia
senantiasa menangis sejak terjadinya peristiwa itu sampai pada hari ini."
Sebagian keluargaku berkata padaku:
"Alangkah baiknya sekiranya engkau meminta izin kepada Rasulullah s.a.w. dalam persoalan isterimu
itu. Rasulullah s.a.w. juga telah
mengizinkan kepada isteri Hilal bin Umayyah untuk tetap melayaninya." Saya
berkata: "Saya tidak akan meminta izin untuk isteriku itu kepada Rasulullah
s.a.w., saya pun tidak tahu bagaimana nanti yang akan diucapkan oleh Rasulullah s.a.w. sekiranya saya meminta izin pada beliau perihal isteriku itu -
yakni supaya boleh tetap melayani diriku?
Saya adalah seorang yang masih muda." Saya tetap berkeadaan sebagaimana di
atas itu - tanpa isteri - selama sepuluh
malam dengan harinya sekali maka
telah genaplah jumlahnya menjadi lima
puluh hari sejak kaum Muslimin dilarang
bercakap-cakap dengan kita.
Selanjutnya
saya bersembahyang Subuh pada pagi
hari kelima puluh itu di muka rumah
dari salah satu rumah keluarga kami. Kemudian di kala saya sedang duduk dalam
keadaan yang disebutkan oleh Allah
Ta'ala perihal diri kita itu - yakni
ketika kami bertiga sedang dikucilkan, jiwaku terasa amat sempit sedang bumi
yang luas terasa amat kecil, tiba- tiba saya mendengar suara teriakan seseorang yang berada di atas gunung Sala' -
sebuah gunung di Madinah, ia berkata dengan suaranya yang amat keras: "Hai
Ka'ab bin Malik,
bergembiralah." Segera setelah
mendengar itu, sayapun bersujud - syukur - dan saya meyakinkan bahwa telah ada kelapangan
yang datang untukku. Rasulullah s.a.w. telah memberitahukan pada orang-orang
banyak bahwa taubat kita bertiga telah diterima oleh
Allah 'Azzawajalla, yaitu di waktu beliau bersembahyang Subuh. Maka orang-orangpun menyampaikan berita gembira
itu pada kita dan ada pula pembawa-pembawa kegembiraan
itu yang
mendatangi kedua sahabatku - yang senasib. Ada
seorang yang dengan cepat-cepat melarikan kudanya serta
bergegas-gegas
menuju ke tempatku dari
golongan Aslam - namanya Hamzah bin Umar al-Aslami. Ia menaiki gunung dan suaranya itu kiranya lebih
cepat terdengar olehku
daripada datangnya kuda itu sendiri. Setelah
dia datang padaku yakni orang yang kudengar suaranya tadi, iapun memberikan berita gembira padaku,
kemudian saya melepaskan
kedua bajuku
dan saya
berikan kepadanya untuk dipakai,
sebagai hadiah dari berita gembira
yang disampaikannya itu. Demi Allah, saya tidak mempunyai pakaian selain
keduanya tadi pada hari itu. Maka
sayapun meminjam dua buah baju - dari orang lain - dan saya kenakan lalu berangkat menuju ke tempat Rasulullah
s.a.w. Orang-orang sama menyambut kedatanganku itu sekelompok demi sekelompok menyatakan
ikut gembira padaku
sebab taubatku yang
telah diterima. Mereka
berkata: "Semogagembiralah hatimu kerana Allah telah menerima
taubatmu itu." Demikian akhirnya saya memasuki masjid, di situ Rasulullah s.a.w. sedang duduk dan di sekelilingnya ada beberapa orang. Thalhah
bin Ubaidullah r.a. lalu berdiri
cepat-cepat kemudian menjabat tanganku dan menyatakan ikut gembira atas diriku. Demi Allah tidak ada seorangpun dari
golongan kaum Muhajirin yang berdiri selain
Thalhah itu. Oleh sebab itu Ka'ab tidak akan
melupakan peristiwa itu untuk Thalhah.
Ka'ab
berkata: "Ketika saya
mengucapkan salam
kepada Rasulullah s.a.w. beliau tampak
berseri-seri wajahnya kerana gembiranya lalu bersabda: "Bergembiralah dengan datangnya suatu hari baik yang pernah engkau alami sejak engkau dilahirkan oleh ibumu. "Saya bertanya: "Apakah itu datangnya dari sisi Tuan sendiri ya Rasulullah, ataukah
dari sisi Allah?" Beliau s.a.w.
menjawab: "Tidak dari aku sendiri,
tetapi memang dari Allah
'Azzawajalla". Rasulullah s.a.w. itu apabila
gembira hatinya,
maka wajahnya pun bersinar
indah,seolah-olah wajahnya itu adalah sepenuh bulan, kita semua mengetahui
hal itu.
Setelah saya duduk di hadapannya, saya
lalu berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya untuk menyatakan taubatku itu ialah saya hendak melepaskan sebagian hartaku sebagai sedekah kepada
Allah dan RasulNya." Rasulullah
s.a.w. bersabda: "Tahanlah untukmu sendiri sebagian dari harta-hartamu itu, sebab yang sedemikian itu adalah lebih baik." Saya menjawab: "Sebenarnya saya telah
menahan bagianku yang ada di tanah
Khaibar." Selanjutnya saya meneruskan: "Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkan diriku dengan jalan berkata
benar, maka sebagai tanda taubatku pula ialah bahwa saya tidak
akan berkata kecuali yang sebenarnya saja selama
kehidupanku yang masih tertinggal."
Demi Allah, belum pernah saya melihat
seseorangpun dari kalangan kaum Muslimin yang diberi
cobaan oleh Allah Ta'ala dengan sebab kebenaran kata-kata yang diucapkan, sejak saya menyebutkan hal itu kepada Rasulullah s.a.w. yang jadinya lebih baik dari yang telah dicobakan oleh Allah
Ta'ala pada diriku sendiri. Demi Allah, saya tidak bermaksud akan berdusta sedikitpun sejak saya mengatakan itu kepada
Rasulullah s.a.w. sampai pada hariku ini
dan sesungguhnya
sayapun mengharapkan
agar Allah
Ta'ala senantiasa
melindungi diriku dari kedustaan itu dalam kehidupan yang masih tertinggal
untukku."
Ka'ab
berkata; "Kemudian Allah Ta'ala menurunkan
wahyu yang artinya:
"Sesungguhnya
Allah telah menerima taubatnya Nabi, kaum Muhajirin
dan Anshar yang mengikutinya - ikut berperang
– dalam masa kesulitan - sampai di firmanNya
yang berarti 6 ;
Sesungguhnya Allah itu adalah Maha Penyantun lagi Penyayang kepada mereka.
Juga Allah telah menerima taubat tiga orang yang ditinggalkan di belakang, sehingga terasa
sempitlah bagi mereka bumi yang terbentang luas ini
- sampai di firmanNya yang
berarti - Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah
engkau semua bersama orang-orang yang benar." (at-
Taubah: 117-119)
6 Lengkapnya
ayat-ayat 117, 118
dan
119 dari surat at-Taubah itu
artinya adalah sebagai
berikut:
117.
Sesungguhnya Allah tefah menerima taubat Nabi, kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang
mengikuti Nabi dalam masa kesulitan. yaitu setelah hati sebagian
dari mereka hampir menyimpang, kemudian
Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya
Allah itu Maha Pengasih Lagi Penyayang kepada
mereka.
118.
Allah juga
menerima taubatnya tiga orang
yang
ditinggalkan di belakang sehingga
bumi yang luas terbentang
ini terasa sempit oleh mereka dan mereka rasakan nafas mereka menjadi sesak. Mereka
mengetahui bahwa tidak ada tempat berlindung dari siksa Allah melainkan
kepada Allah. Kemudian
Allah
menerima taubat mereka supaya mereka kembali
- ke
jalan yang benar -. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penerima taubat
lagi
Penyayang.
119.
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah
dan hendaklah kamu
semua itu bersama-sama orang-orang yang benar
-
kata-kata serta perbuatannya.
orang-orang yang berdusta
- maksudnya ialah kerusakan
agama bagi dirinya,
akhlak dan lain-lain. Sesungguhnya Allah Ta'ala telah berfirman kepada orang-orang yang berdusta ketika diturunkannya
wahyu, yaitu suatu kata-kata terburuk yang pernah diucapkan kepada seseorang. Allah Ta'ala
berfirman yang artinya:
"Mereka
akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, ketika engkau kembali kepada mereka,
supaya engkau dapat membiarkan mereka.
Sebab itu berpalinglah dari mereka
itu, sesungguhnya mereka itu kotor dan tempatnya adalah neraka Jahanam, sebagai pembalasan
dari apa yang mereka lakukan.
Mereka bersumpah kepadamu supaya engkau merasa
senang kepada mereka, tetapi biarpun
engkau merasa
senang kepada mereka, namun Allah tidak senang kepada kaum yang fasik itu."
(at- Taubah: 95-96)
Ka'ab
berkata: "Kita
semua bertiga
ditinggalkan, sehingga
tidak
termasuk dalam urusan golongan
orang-orang yang diterima oleh Rasulullah s.a.w. perihal alasan-alasan mereka
itu, yaitu ketika mereka juga bersumpah
padanya, lalu memberikan janji-janji kepada mereka supaya setia dan memohonkan pengampunan
untuk mereka pula. Rasulullah s.a.w.
telah mengakhirkan urusan kita bertiga itu sehingga Allah memberikan keputusan
dalam peristiwa tersebut." Allah Ta'ala berfirman: "Dan juga kepada tiga orang yang ditinggalkan."
Bukannya
yang disebutkan di situ yaitu dengan firmanNya "Tiga orang yang
ditinggalkan dimaksudkan kita membelakang dari
peperangan, tetapi Rasulullah s.a.w.
yang meninggalkan kita bertiga tadi dan menunda urusan
kita, dengan tujuan untuk memisahkan
dari orang-orang yang bersumpah dan
mengemukakan alasan-alasan padanya, kemudian menyarmpikan masing-masing
keuzurannya dan selanjutnya beliau
s.a.w., menerima alasan- alasan mereka tersebut." (Muttafaq 'alaih)
Dalam
sebuah riwayat disebutkan: "Bahwasanya Rasulullah
s.a.w. keluar untuk berangkat ke peperangan Tabuk pada hari Khamis dan memang beliau s.a.w.
suka sekali kalau keluar pada hari
Kamis itu."
Dalam
riwayat lain disebutkan
pula: "Beliau s.a.w.
tidak datang dari
sesuatu perjalanan melainkan
di waktu siang di dalam saat dhuhadan jikalau beliau s.a.w. telah datang, maka lebih dulu masuk ke dalam masjid,
kemudian bersembahyang dua rakaat lalu duduk di dalamnya."
Keterangan:
Secara jelasnya makna Khullifuu dalam
ayat di atas itu ialah:
ditangguhkannya tiga orang itu perihal
dimaafkannya dan ditundanya untuk diterima taubatnya sehingga limapuluh hari limapuluh malam lamanya.
Jadi Khullifuu bukan
bermaksud ditinggalkannya orang tiga di atas oleh Rasulullah
s.a.w. dan sahabat-sahabatnya ketika tidak mengikuti perang Tabuk.
Oleh sebab itu orang lain yang tidak mengikuti perang
Tabuk dan berani bersumpah serta
mengemukakan alasan-alasan yang
beraneka macamnya, lalu
dimaafkan oleh Nabi s.a.w. dan tidak ikut dikucilkan, tidak
dapat dimasukkan dalam golongan "Tiga orang yang ditinggalkan" tersebut. Jadi diterima atau tidaknya alasan yang mereka kemukakan itu belum
dapat dipastikan kebenarannya, sebab
yang Maha Mengetahui hanyalah Allah
Ta'ala sendiri. )elasnya kalau benar alasannya, tentulah dimaafkan oleh Allah, sedang kalau tidak, tentu saja ada siksanya bagi orang yang
berdusta itu, apabila Allah tidak mengampuninya.
Adapun
tiga orang di atas sudah pasti dimaafkan dan juga
telah diterima taubatnya.
22.
Dari Abu Nujaid (dengan
dhammahnya nun dan fathahnya jim) yaitu lmranbin Hushain al-Khuza'i radhiallahu
'anhuma bahwasanya ada seorang
wanita dari suku Juhainah mendatangi Rasulullah s.a.w.
dan ia sedang dalam keadaan hamil
kerana perbuatan zina. Kemudian ia berkata: "Ya Rasulullah, saya telah melakukan sesuatu
perbuatan yang harus
dikenakan had - hukuman - maka tegakkanlah had itu atas diriku." Nabiullah
s.a.w. lalu memanggil wali wanita itu lalu bersabda: "Berbuat baiklah kepada
wanita ini dan apabila telah melahirkan - kandungannya, maka datanglah padaku dengan membawanya." Wali
tersebut melakukan apa yang diperintahkan.
Setelah bayinya lahir - lalu beliau s.a.w. memerintahkan untuk memberi hukuman, wanita itu diikatlah pada pakaiannya, kemudian
dirajamlah. Selanjutnya beliau s.a.w. menyembahyangi jenazahnya.
Umar berkata pada beliau: "Apakah
Tuan menyembahyangi jenazahnya, ya Rasulullah, sedangkan ia telah
berzina?"
Beliau
s.a.w. bersabda: "Ia telah bertaubat
benar-benar,
andaikata taubatnya itu dibagikan kepada tujuhpuluh orang dari penduduk
Madinah, pasti masih mencukupi. Adakah pernah engkau menemukan seseorang yang lebih utama dari
orang yang
suka mendermakan jiwanya semata-mata
kerana
mencari
keridhaan
Allah
'Azzawajalla." (Riwayat Muslim)
23. Dari Ibnu Abbas dan Anas bin Malik radhiallahu 'anhum bahwasanya
Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Andaikata seorang anak Adam - yakni manusia - itu memiliki
selembah emas, ia tentu menginginkan memiliki dua lembah dan samasekali tidak akan
memenuhi mulutnya kecuali tanah – yaitu setelah
mati - dan Allah menerima taubat kepada orang yang bertaubat." (Muttafaq
'alaih)
24.
Dan dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Allah Subhanahu
wa Ta'ala
tertawa - merasa senang
- kepada dua
orang yang seorang membunuh
pada lainnya, kemudian
keduanya
dapat
memasuki syurga.
Yang
seorang itu berperang fisabilillah
kemudian ia dibunuh, selanjutnya Allah menerima taubat atas orang
yang membunuhnya tadi,
kemudian ia masuk
Islam dan selanjutnya dibunuh pula sebagai
seorang syahid." (Muttafaq
'alaih)


